BABAK KE 3
Pada tahun 6 Masehi, Romawi kembali mengambil alih kekuasaan atas wilayah Israel dan Palestina dengan memecat Archelaus, anak Herodes, yang menyalahgunakan kekuasaannya. Judea menjadi bagian dari sebuah provinsi Romawi yang lebih besar, yakni Iudaea, yang terbentuk dengan menggabungkan Yudea, Samaria dan Idumea. Ibukota provinsinya adalah Caesarea.
Pontius Pilatus merupakan salah satu gubernur di Provinsi ini. Pilatus diceritakan sebagi orang yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Dalam pengadilannya dia tidak mendapati kesalahan apapun pada Yesus, tapi karena tuntutan yang begitu besar dari orang Yahudi agar Yesus disalibkan, Pilatus akhirnya mencuci tangannya dan menyerahkan kewenangannya kepada massa yang beringas itu.
Setelah Yesus disalibkan tentara Romawi pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, para pengikut Yesus menyebarkan ajaran-ajaran Yesus di seluruh tanah Israel, Palestina, bahkan di seluruh kekaisaran Romawi. Para pemuka agama Yahudi menghawatirkan berkembangnya ajaran ini dan berusaha menangkap para penyebarnya. Ini membuat mereka melarikan diri dari tanah Israel ke tempat-tempat seperti Antiokia, Epesus, Roma dan negeri-negeri asing lainnya. Mereka akhirnya membentuk koloni-koloni Yahudi Kristen, seperti yang dibentuk Petrus di Roma.
Ajaran Kristen terus meluas, bukan saja oleh orang-orang Yahudi namun juga oleh orang-orang Yunani yang telah dikristenkan. Seperti halnya Paulus orang Tarsus yang mengabarkan Injil kepada orang-orang Yahudi, Yunani dan Romawi dengan keahliannya menginterpretasikan terminologi-terminologi dan pemahaman-pemahaman filosofis dalam ajaran nasrani sesuai standar peradaban Helenistik yang dikuasainya sebagai orang Yunani. Paulus menjadi penulis beberapa buku dalam kitab suci agama Kristen.
Antara tahun 41 dan 44 CE, Iudaea kembali mendapatkan otonomi nominalnya ketika Herodes Agripa dinobatkan sebagai raja orang Yahudi oleh kaisar Claudius. Tapi ketika Agripa mangkat, provinsi itu kembali diperintah secara langsung oleh Romawi sebelum dikembalikan kepada Markus Julius Agripa pada tahun 48 Masehi. Agripa II ini menjadi raja terakhir dari dinasti Herodes.
Setelah Claudius Agung meninggal tahun 54 Masehi, Nero menjadi kaisar Romawi menggantikan pamannya itu. Nero melakukan pembunuhan pada orang-orang Kristen, di antaranya Paulus dan Petrus yang dihukum mati sekitar tahun 64 Masehi. Nero melakukan pembantaian-pembantaian itu dengan kejam, dari menjadikan mereka makanan singa, membakar mereka hidup-hidup, hingga membakar kota dan mengkambing-hitamkan orang-orang Kristen di Roma. Kekejamannya berlangsung terus hingga tahun 68 Masehi ketika terjadi kudeta militer yang menjungkalkan Nero dari tahtanya. Sebelum dihukum mati, kaisar kejam ini akhirnya bunuh diri.
Orang Yahudi Terusir dari Yerusalem
Dalam masa pemerintahan Nero, yakni pada bulan November tahun 66 Masehi, dimulailah pemberontakan Yahudi yang disebut Perang Yahudi-Romawi Pertama. Pemberontakan ini berlangsung selama 4 tahun dan berakhir pada tahun 70 Masehi, saat mana panglima militer Romawi, jenderal Titus, berhasil menumpas pemberontakan ini dan menghancurkan Yerusalem hingga rata dengan tanah. Orang-orang Yahudi di Yerusalem dibantai dan sisanya diperjualbelikan sebagai budak di kota-kota Romawi.
Perang Kitos (115-117), disebut juga Pemberontakan di Pengasingan merupakan nama yang diberikan pada perang Yahudi-Romawi Kedua. Nama Kitos diambil dari jenderal Lusius Quietus yang dengan brutal memadamkan pemberontakan Yahudi di Mesopotamia. Dia kemudian dikirim ke Yudea menangani pemberontakan di sana sebagai seorang procurator di bawah Trajan, kaisar Romawi pada saat itu.
Walaupun mengalami pembantaian dalam dua pemberontakan tadi, namun orang Yahudi masih menjadi mayoritas di Yerusalem, hingga pada akhir pemberontakan ketiga ketika mereka bangkit melawan Romawi tahun 132 hingga 135 Masehi. Pemberontakan ini dipimpin oleh Simon bar Kokhba dan dikenal dengan pemberontkan Barkokhba yang hampir berhasil menguasai Yerusalem. Namun kaisar Hadrian (pengganti Trajan) berhasil memadamkan pemberontakannya. Dia bahkan merubah nama provinsi Iudaea menjadi Syria Palestina, membantai dan mengusir orang Yahudi dari Yerusalem lalu merubah nama kota itu menjadi Aelia Capitolina (diambil dari namanya Aelius Hadrianus) dengan maksud mempermalukan Yahudi dan menghapus hubungan historis Yahudi dari wilayah itu.
Orang-orang Yahudi, terutama orang Yerusalem, tercerai-berai ke berbagai penjuru dunia dan membentuk diaspora di negeri-negeri asing. Reruntuhan Yerusalem dibangun kembali dengan namanya yang baru (Aelia Capitolina) dan di atas puing ka’bah Yahudi Hadrian membangun kuil untuk dewa Jove (Yupiter versi Yunani).
Agama Kristen Menjadi Agama Resmi
Orang-orang Yahudi dilarang memasuki bahkan mendekati Yerusalem hingga beratus-ratus tahun sesudah itu. Sebagian besar mereka lalu meninggalkan Israel membawa serta budaya dan agama Yahudi, juga ajaran Kristen yang sudah dianut sebagian dari mereka. Agama Yahudi bersifat eksklusif, tapi ajaran Yesus bersifat inklusif dan dengan demikian mudah menyebar di negeri-negeri asing dimana diaspora-diaspora Yahudi Kristen terbentuk.
Untuk mengamankan kekaisaran di tengah perkembangan kekristenan yang semakin meluas, pemerintah Romawi merangkul umat Kristen dengan melakukan beberapa penyesuaian pada ajarannya dan diasimilasikan dengan budaya Helenistik yang sudah dianut orang di seluruh wilayah Romawi sejak jaman Yunani. Dengan demikian semakin banyak orang yang menerima ajaran Kristen itu, hingga akhirnya Kaisar Konstantin sendiri memeluk agama Kristen pada tahun 325 Masehi. Kaisar ini memindahkan ibukota kekaisarannya ke Byzantine yang kemudian dinamai Konstantinopel.
Sejak itu Kristen menjadi agama resmi di seluruh kekaisaran Byzantine, termasuk di Palestina, dimana Konstantin merubuhkan berbagai kuil para dewa Yunani dan mendirikan banyak gereja di seluruh Palestina. Di antaranya adalah gereja Sepulchre suci (335 M) yang menjadi salah satu gereja terpenting Kristen karena diyakini menjadi tempat kebangkitan, didirikan di atas pondasi bekas kuil dewi Aphrodite dari zaman sebelumnya. Konstantin juga mendirikan gereja Ascensian di gunung Zaitun (Mount of Olives) dimana mereka yakini Yesus diangkat ke surga, dan gereja Nativity di Bethlehem: kota kelahiran Yesus. Pada masa inilah dimulainya tradisi ziarah umat Kristen ke Yerusalem. Mereka datang dari seluruh kekaisaran Romawi, terutama dari Eropa.
Inilah akhir babak ke 3: Masa kekaisaran Byzantine. Babak ini bukanlah keunggulan Palestina, namun jelas ini kekalahan total bagi bangsa Israel dimana mereka terusir dari tanah Israel. Dinasti Herodes telah berakhir, namun istilah Palestina untuk pertama kalinya digunakan sebagai nama untuk seluruh wilayah Israel dan Palestina.
Minggu, 01 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

It's an interesting story, but too far back and I think much of it become irrelevant to the conflict nowadays.
BalasHapusantonio o.
Maybe, but degree of relevance is subjective.. and you'll see that the story become more relevant from week to week.
BalasHapusThank's for the comment.