BABAK KE-5
Era damai kekalifahan berlangsung hingga tahun 969, ketika penguasaan kota beralih ke kalifah Fatimid. Kekalifahan ini disebut juga al-Fatimiyyun dan merupakan dinasti Arab beraliran Ismailisme Syiah. Inilah kekalifahan yang keempat dan yang terakhir dari kekalifahan Arab. Para pemimpin mereka melegitimasi kekuasaannya berdasarkan keturunan nabi Muhammad dari anaknya Fatima as-Zahra.
Kekalifahan ini berpusat di Mesir dan terkenal toleran terhadap aliran Islam yang lain seperti Sunni, bahkan Kristen dan Yahudi yang diikutsertakan dalam pemerintahan. Namun demikian, di beberapa tempat mereka juga dikenal dengan penghancuran yang sistematis atas sinagog-sinagog dan gereja-gereja, termasuk gereja Holy Sepulchre. Inilah salah satu sebab terjadinya Perang Salib.
Tahun 1071 Seljuk dari Turki berhasil menggusur kalifah Fatimid sebagai penguasa tanah suci Yerusalem. Dengan demikian wilayah kekuasaan kalifah Fatimid terdesak hingga ke Mesir. Kaum Seljuk kemudian menutup jalur-jalur ziarah yang begitu lama terpelihara. Para peziarah dari Eropa melaporkan bagaimana mereka diganggu dan dihina oleh pasukan berpelana karpet (pasukan Turki). Hal ini menambah marah Eropa Barat yang kemudian melakukan serangkaian invasi, yang mereka sebut sebagai Perang Salib.
Walaupun kekalifahan Fatimid berhasil merebut kembali Yerusalem dari Turki pada tahun 1098, namun mereka kemudian dibantai di sana oleh para pejuang salib setahun kemudian. Inilah kejatuhan Yerusalem (tahun 1099) dimana para pejuang salib membantai banyak orang Yahudi maupun Islam yang bertahan di dalam kota. Mereka juga melarang kaum Yahudi tinggal di Yerusalem. Pada masa ini Dome of the Rock dirubah menjadi bangunan Kristen dengan nama Templum Domini (berarti Rumah Tuhan). Gereja Holy Sepulchre dibangun kembali, lalu rumah-rumah sakit dan biara-biara juga didirikan.
Kekuasaan Kristen berlangsung hampir 90 tahun, hingga tahun 1187 ketika kota Yerusalem kembali ditaklukan oleh sebuah pemerintahan Muslim, kali ini oleh pasukan Mamluke di bawah pimpinan Sultan Saladin. Berbeda dengan Kekalifahan Fatimid yang beraliran Syiah, Saladin dan para penerusnya (kesultanan Ayubid) berhasil menjadikan Mesir sebagai pusat keyakinan Islam Sunni. Dalam kekuasaannya, Saladin banyak dipuji oleh sejarahwan Arab maupun Eropa dalam hal kekesatriaannya. Ketika para pejuang salib menaklukkan Yerusalem tahun 1099, mereka membunuh hampir semua penduduknya, tapi ketika Saladin menaklukkan kota itu tahun 1187, dia mengampuni musuh-musuhnya, memberi mereka waktu untuk meninggalkan kota dengan aman.
Pada akhir tahun 1099, Sultan Saladin telah menguasai hampir seluruh Kerajaan Yerusalem (kekuasaan pasukan Kristen), kecuali Tirus. Namun saat itu dia dihadapkan pada kedatangan gelombang ketiga dari pasukan salib yang dipimpin tiga penguasa Eropa saat itu: Frederick Barbarossa dari Jerman, Philip Augustus dari Perancis, dan Richard the Lionharted dari Inggris. Frederick meninggal dalam perjalanan, namun Philip dan Richard berhasil menaklukkan Acre lalu Philip kembali ke Perancis.
Di bawah pimpinan Richard, pasukan gabungan ini berhasil mengalahkan Saladin dalam pertempuran di Arsuf. Mereka lalu berusaha masuk lebih jauh ke pedalaman, ke arah Yerusalem, namun Saladin memukul mundur mereka ke arah pantai. Akhirnya Richard menandatangani perjanjian damai dengan Saladin pada tahun 1192 yang mengembalikan kekuasaan Kristen di sepanjang wilayah pantai antara Jaffa dan Beirut. Wilayah ini mereka sebut Kerajaan Yerusalem, walaupun tidak mencakup kota Yerusalem di dalamnya. Sultan Saladin meninggal pada tahun berikutnya.
Kesultanan Ayubid menguasai Yerusalem sepanjang abad ke-13 hingga abad ke-15.Dalam rentang waktu yang panjang itu pasukan Kristen berkali-kali berupaya mengambil alih Yerusalem dan sempat berhasil dalam dua periode singkat, yakni tahun1229-1239 dan 1240-1244. Namun sesudah itu mereka terdesak kembali ke wilayah pantai sebelum akhirnya meninggalkan tanah Palestina pada tahun 1291 ketika pasukan Mamluk merebut Acre.
Seperti halnya kesultanan Abbasid di Bagdad, para sultan Ayubid di Kairo sangat mengandalkan pasukan orang Turki yang disebut Mamluk (yang berarti dimiliki oleh Arab). Orang-orang Turki ini ditangkap pada saat masih kanak-kanak, diIslamkan dan diberi berbagai latihan militer oleh penguasa Arab. Pada tahun 1250, orang-orang Mamluk ini mengambil alih Citadel di Kairo (istana dan pusat pemerintahan kesultanan Ayubid). Menyusul jatuhnya Mesir, Palestina sebagai wilayah pendudukan Ayubid ikut jatuh ke tangan penguasa Mamluk.
Palestina di zaman itu sempat mengalami kehancuran dan penjarahan yang kejam dari pasukan Mongol sebelum pasukan Mamluk berhasil mengusir mereka. Perang yang sengit dan berkepanjangan dengan pasukan Salib di sepanjang pantai Laut Tengah menambah kehancuran negeri ini. Karena kekhawatiran akan kembalinya pasukan salib mereka merusak pelabuhan-pelabuhan, perkebunan-perkebunan dan sistem-sistem irigasinya. Pendapatan yang didapat dari para peziarah kini mengering karena pasukan Mamluk terus mengisolasi Palestina. Karena literatur Arab adalah asing bagi Mamluk, mereka juga menghancurkan perpustakaan-perpustakaan bahkan pusat-pusat budaya dan ilmu pengetahuan Arab. Hal ini menempatkan Palestina ke dalam masa kelam selama sekitar 600 tahun.
Inilah babak ke-5. Palestina dan Israel porak-poranda akibat kekuatan-kekuatan asing yang berperang memperebutkan tanah mereka.
Minggu, 15 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda.