BABAK KE-5
Era damai kekalifahan berlangsung hingga tahun 969, ketika penguasaan kota beralih ke kalifah Fatimid. Kekalifahan ini disebut juga al-Fatimiyyun dan merupakan dinasti Arab beraliran Ismailisme Syiah. Inilah kekalifahan yang keempat dan yang terakhir dari kekalifahan Arab. Para pemimpin mereka melegitimasi kekuasaannya berdasarkan keturunan nabi Muhammad dari anaknya Fatima as-Zahra.
Kekalifahan ini berpusat di Mesir dan terkenal toleran terhadap aliran Islam yang lain seperti Sunni, bahkan Kristen dan Yahudi yang diikutsertakan dalam pemerintahan. Namun demikian, di beberapa tempat mereka juga dikenal dengan penghancuran yang sistematis atas sinagog-sinagog dan gereja-gereja, termasuk gereja Holy Sepulchre. Inilah salah satu sebab terjadinya Perang Salib.
Tahun 1071 Seljuk dari Turki berhasil menggusur kalifah Fatimid sebagai penguasa tanah suci Yerusalem. Dengan demikian wilayah kekuasaan kalifah Fatimid terdesak hingga ke Mesir. Kaum Seljuk kemudian menutup jalur-jalur ziarah yang begitu lama terpelihara. Para peziarah dari Eropa melaporkan bagaimana mereka diganggu dan dihina oleh pasukan berpelana karpet (pasukan Turki). Hal ini menambah marah Eropa Barat yang kemudian melakukan serangkaian invasi, yang mereka sebut sebagai Perang Salib.
Walaupun kekalifahan Fatimid berhasil merebut kembali Yerusalem dari Turki pada tahun 1098, namun mereka kemudian dibantai di sana oleh para pejuang salib setahun kemudian. Inilah kejatuhan Yerusalem (tahun 1099) dimana para pejuang salib membantai banyak orang Yahudi maupun Islam yang bertahan di dalam kota. Mereka juga melarang kaum Yahudi tinggal di Yerusalem. Pada masa ini Dome of the Rock dirubah menjadi bangunan Kristen dengan nama Templum Domini (berarti Rumah Tuhan). Gereja Holy Sepulchre dibangun kembali, lalu rumah-rumah sakit dan biara-biara juga didirikan.
Kekuasaan Kristen berlangsung hampir 90 tahun, hingga tahun 1187 ketika kota Yerusalem kembali ditaklukan oleh sebuah pemerintahan Muslim, kali ini oleh pasukan Mamluke di bawah pimpinan Sultan Saladin. Berbeda dengan Kekalifahan Fatimid yang beraliran Syiah, Saladin dan para penerusnya (kesultanan Ayubid) berhasil menjadikan Mesir sebagai pusat keyakinan Islam Sunni. Dalam kekuasaannya, Saladin banyak dipuji oleh sejarahwan Arab maupun Eropa dalam hal kekesatriaannya. Ketika para pejuang salib menaklukkan Yerusalem tahun 1099, mereka membunuh hampir semua penduduknya, tapi ketika Saladin menaklukkan kota itu tahun 1187, dia mengampuni musuh-musuhnya, memberi mereka waktu untuk meninggalkan kota dengan aman.
Pada akhir tahun 1099, Sultan Saladin telah menguasai hampir seluruh Kerajaan Yerusalem (kekuasaan pasukan Kristen), kecuali Tirus. Namun saat itu dia dihadapkan pada kedatangan gelombang ketiga dari pasukan salib yang dipimpin tiga penguasa Eropa saat itu: Frederick Barbarossa dari Jerman, Philip Augustus dari Perancis, dan Richard the Lionharted dari Inggris. Frederick meninggal dalam perjalanan, namun Philip dan Richard berhasil menaklukkan Acre lalu Philip kembali ke Perancis.
Di bawah pimpinan Richard, pasukan gabungan ini berhasil mengalahkan Saladin dalam pertempuran di Arsuf. Mereka lalu berusaha masuk lebih jauh ke pedalaman, ke arah Yerusalem, namun Saladin memukul mundur mereka ke arah pantai. Akhirnya Richard menandatangani perjanjian damai dengan Saladin pada tahun 1192 yang mengembalikan kekuasaan Kristen di sepanjang wilayah pantai antara Jaffa dan Beirut. Wilayah ini mereka sebut Kerajaan Yerusalem, walaupun tidak mencakup kota Yerusalem di dalamnya. Sultan Saladin meninggal pada tahun berikutnya.
Kesultanan Ayubid menguasai Yerusalem sepanjang abad ke-13 hingga abad ke-15.Dalam rentang waktu yang panjang itu pasukan Kristen berkali-kali berupaya mengambil alih Yerusalem dan sempat berhasil dalam dua periode singkat, yakni tahun1229-1239 dan 1240-1244. Namun sesudah itu mereka terdesak kembali ke wilayah pantai sebelum akhirnya meninggalkan tanah Palestina pada tahun 1291 ketika pasukan Mamluk merebut Acre.
Seperti halnya kesultanan Abbasid di Bagdad, para sultan Ayubid di Kairo sangat mengandalkan pasukan orang Turki yang disebut Mamluk (yang berarti dimiliki oleh Arab). Orang-orang Turki ini ditangkap pada saat masih kanak-kanak, diIslamkan dan diberi berbagai latihan militer oleh penguasa Arab. Pada tahun 1250, orang-orang Mamluk ini mengambil alih Citadel di Kairo (istana dan pusat pemerintahan kesultanan Ayubid). Menyusul jatuhnya Mesir, Palestina sebagai wilayah pendudukan Ayubid ikut jatuh ke tangan penguasa Mamluk.
Palestina di zaman itu sempat mengalami kehancuran dan penjarahan yang kejam dari pasukan Mongol sebelum pasukan Mamluk berhasil mengusir mereka. Perang yang sengit dan berkepanjangan dengan pasukan Salib di sepanjang pantai Laut Tengah menambah kehancuran negeri ini. Karena kekhawatiran akan kembalinya pasukan salib mereka merusak pelabuhan-pelabuhan, perkebunan-perkebunan dan sistem-sistem irigasinya. Pendapatan yang didapat dari para peziarah kini mengering karena pasukan Mamluk terus mengisolasi Palestina. Karena literatur Arab adalah asing bagi Mamluk, mereka juga menghancurkan perpustakaan-perpustakaan bahkan pusat-pusat budaya dan ilmu pengetahuan Arab. Hal ini menempatkan Palestina ke dalam masa kelam selama sekitar 600 tahun.
Inilah babak ke-5. Palestina dan Israel porak-poranda akibat kekuatan-kekuatan asing yang berperang memperebutkan tanah mereka.
Minggu, 15 Februari 2009
Senin, 09 Februari 2009
Perang Palestina-Israel: Konflik 4000 Tahun
BABAK KE-4
Kemunculan Islam pada abad ke-7 mengakibatkan perubahan besar di Timur Tengah. Kekalifahan sesudah Nabi Muhammad meluaskan wilayahnya ke utara, merebut wilayah-wilayah bekas kekaisaran Byzantine yang telah lemah, termasuk Palestina.
Setelah masa yang singkat dalam penguasaan Persia, pasukan Arab akhirnya bisa mencapai dan mengepung Yerusalem. Merasa tak bisa mempertahankan Yerusalem dari serangan Arab pimpinan patriarki Romawi di Yerusalem, Sophoronius, mengirim pesan pada Omar bin al-Khatab, Kalifah ketiga dan pimpinan tertinggi bala tentara Arab, bahwa dia akan menyerahkan Yerusalem kepadanya.
Tahun 638, enam tahun sesudah meninggalnya nabi Mohammad, Omar pergi ke Yerusalem dan menerima penyerahan Yerusalem dengan menandatangani syarat-syarat penyerahan yang menyebutkan perlindungan bagi orang-orang Kristen, harta benda dan gereja-gereja mereka. Inilah penaklukan Yerusalem yang pertama kali tanpa pembantaian dan penghancuran.
Caesarea, ibukota Palestina versi Romawi, merupakan kota yang terakhir jatuh ke tangan Arab pada tahun 640. Kota pelabuhan ini bertahan lama dari kepungan karena mendapat suplai melalui laut. Setelah kejatuhan Caesarea, akhirnya Palestina menjadi bagian integral dari dunia Arab.
Segera setelah menaklukkan Yerusalem, Omar membersihkan Bukit Ka’bah dari puing-puing reruntuhannya dan menemukan batu yang diyakininya menjadi tempat sembahyang nabi Muhammad sebelum naik ke surga setelah melakukan perjalanan ajaib selama satu malam dari Mekah dengan mengendarai kuda-terbangnya Al-Buraq.
Lokasi ini adalah reruntuhan kuil dewa Jupiter yang dibangun kaisar Hardian, dibangun di atas puing-puing ka’bah Yahudi, baik ka’bah pertama yang didirikan Salomo dan dihancurkan Nebukadnezar, maupun ka’bah kedua yang kemudian dihancurkan Titus. Di tempat suci ini, dikenal dalam bahasa Arab sebagai Haram al Sharif, Kalifah Abd al-Malik membangun gedung megah yang spektakuler, yakni Qubbat As-Sakhrah (Dome of the Rock) antara tahun 687 dan 691 M.
Bangunan ini adalah sebuah mashhad, yakni bangunan untuk para peziarah. Tinggi kubahnya 20 meter dengan lebar 10 meter dan merupakan salah satu maha karya Arsitektur dunia. Berdampingan dengannya berdiri mesjid Al-Aqsa di mana mereka dapat sembahyang. Yerusalem menjadi kota suci bagi kaum muslimin.Penguasa muslim yang menguasai wilayah ini hingga tahun 960an mengizinkan orang Kristen bahkan Yahudi untuk tetap memelihara agamanya. Mereka juga mengizinkan para peziarah dari berbagai tempat di Eropa dan Asia untuk datang ke Yerusalem.
Zaman kekalifahan ini merupakan kemenangan Palestina yang sebagian besar penduduknya telah memeluk Islam. Mereka menjadi bagian dari dunia Arab dan bagian dari kekalifahan yang memerintah.
Kemunculan Islam pada abad ke-7 mengakibatkan perubahan besar di Timur Tengah. Kekalifahan sesudah Nabi Muhammad meluaskan wilayahnya ke utara, merebut wilayah-wilayah bekas kekaisaran Byzantine yang telah lemah, termasuk Palestina.
Setelah masa yang singkat dalam penguasaan Persia, pasukan Arab akhirnya bisa mencapai dan mengepung Yerusalem. Merasa tak bisa mempertahankan Yerusalem dari serangan Arab pimpinan patriarki Romawi di Yerusalem, Sophoronius, mengirim pesan pada Omar bin al-Khatab, Kalifah ketiga dan pimpinan tertinggi bala tentara Arab, bahwa dia akan menyerahkan Yerusalem kepadanya.
Tahun 638, enam tahun sesudah meninggalnya nabi Mohammad, Omar pergi ke Yerusalem dan menerima penyerahan Yerusalem dengan menandatangani syarat-syarat penyerahan yang menyebutkan perlindungan bagi orang-orang Kristen, harta benda dan gereja-gereja mereka. Inilah penaklukan Yerusalem yang pertama kali tanpa pembantaian dan penghancuran.
Caesarea, ibukota Palestina versi Romawi, merupakan kota yang terakhir jatuh ke tangan Arab pada tahun 640. Kota pelabuhan ini bertahan lama dari kepungan karena mendapat suplai melalui laut. Setelah kejatuhan Caesarea, akhirnya Palestina menjadi bagian integral dari dunia Arab.
Segera setelah menaklukkan Yerusalem, Omar membersihkan Bukit Ka’bah dari puing-puing reruntuhannya dan menemukan batu yang diyakininya menjadi tempat sembahyang nabi Muhammad sebelum naik ke surga setelah melakukan perjalanan ajaib selama satu malam dari Mekah dengan mengendarai kuda-terbangnya Al-Buraq.
Lokasi ini adalah reruntuhan kuil dewa Jupiter yang dibangun kaisar Hardian, dibangun di atas puing-puing ka’bah Yahudi, baik ka’bah pertama yang didirikan Salomo dan dihancurkan Nebukadnezar, maupun ka’bah kedua yang kemudian dihancurkan Titus. Di tempat suci ini, dikenal dalam bahasa Arab sebagai Haram al Sharif, Kalifah Abd al-Malik membangun gedung megah yang spektakuler, yakni Qubbat As-Sakhrah (Dome of the Rock) antara tahun 687 dan 691 M.
Bangunan ini adalah sebuah mashhad, yakni bangunan untuk para peziarah. Tinggi kubahnya 20 meter dengan lebar 10 meter dan merupakan salah satu maha karya Arsitektur dunia. Berdampingan dengannya berdiri mesjid Al-Aqsa di mana mereka dapat sembahyang. Yerusalem menjadi kota suci bagi kaum muslimin.Penguasa muslim yang menguasai wilayah ini hingga tahun 960an mengizinkan orang Kristen bahkan Yahudi untuk tetap memelihara agamanya. Mereka juga mengizinkan para peziarah dari berbagai tempat di Eropa dan Asia untuk datang ke Yerusalem.
Zaman kekalifahan ini merupakan kemenangan Palestina yang sebagian besar penduduknya telah memeluk Islam. Mereka menjadi bagian dari dunia Arab dan bagian dari kekalifahan yang memerintah.
Minggu, 01 Februari 2009
Perang Palestina-Israel: Konflik 4000 tahun
BABAK KE 3
Pada tahun 6 Masehi, Romawi kembali mengambil alih kekuasaan atas wilayah Israel dan Palestina dengan memecat Archelaus, anak Herodes, yang menyalahgunakan kekuasaannya. Judea menjadi bagian dari sebuah provinsi Romawi yang lebih besar, yakni Iudaea, yang terbentuk dengan menggabungkan Yudea, Samaria dan Idumea. Ibukota provinsinya adalah Caesarea.
Pontius Pilatus merupakan salah satu gubernur di Provinsi ini. Pilatus diceritakan sebagi orang yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Dalam pengadilannya dia tidak mendapati kesalahan apapun pada Yesus, tapi karena tuntutan yang begitu besar dari orang Yahudi agar Yesus disalibkan, Pilatus akhirnya mencuci tangannya dan menyerahkan kewenangannya kepada massa yang beringas itu.
Setelah Yesus disalibkan tentara Romawi pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, para pengikut Yesus menyebarkan ajaran-ajaran Yesus di seluruh tanah Israel, Palestina, bahkan di seluruh kekaisaran Romawi. Para pemuka agama Yahudi menghawatirkan berkembangnya ajaran ini dan berusaha menangkap para penyebarnya. Ini membuat mereka melarikan diri dari tanah Israel ke tempat-tempat seperti Antiokia, Epesus, Roma dan negeri-negeri asing lainnya. Mereka akhirnya membentuk koloni-koloni Yahudi Kristen, seperti yang dibentuk Petrus di Roma.
Ajaran Kristen terus meluas, bukan saja oleh orang-orang Yahudi namun juga oleh orang-orang Yunani yang telah dikristenkan. Seperti halnya Paulus orang Tarsus yang mengabarkan Injil kepada orang-orang Yahudi, Yunani dan Romawi dengan keahliannya menginterpretasikan terminologi-terminologi dan pemahaman-pemahaman filosofis dalam ajaran nasrani sesuai standar peradaban Helenistik yang dikuasainya sebagai orang Yunani. Paulus menjadi penulis beberapa buku dalam kitab suci agama Kristen.
Antara tahun 41 dan 44 CE, Iudaea kembali mendapatkan otonomi nominalnya ketika Herodes Agripa dinobatkan sebagai raja orang Yahudi oleh kaisar Claudius. Tapi ketika Agripa mangkat, provinsi itu kembali diperintah secara langsung oleh Romawi sebelum dikembalikan kepada Markus Julius Agripa pada tahun 48 Masehi. Agripa II ini menjadi raja terakhir dari dinasti Herodes.
Setelah Claudius Agung meninggal tahun 54 Masehi, Nero menjadi kaisar Romawi menggantikan pamannya itu. Nero melakukan pembunuhan pada orang-orang Kristen, di antaranya Paulus dan Petrus yang dihukum mati sekitar tahun 64 Masehi. Nero melakukan pembantaian-pembantaian itu dengan kejam, dari menjadikan mereka makanan singa, membakar mereka hidup-hidup, hingga membakar kota dan mengkambing-hitamkan orang-orang Kristen di Roma. Kekejamannya berlangsung terus hingga tahun 68 Masehi ketika terjadi kudeta militer yang menjungkalkan Nero dari tahtanya. Sebelum dihukum mati, kaisar kejam ini akhirnya bunuh diri.
Orang Yahudi Terusir dari Yerusalem
Dalam masa pemerintahan Nero, yakni pada bulan November tahun 66 Masehi, dimulailah pemberontakan Yahudi yang disebut Perang Yahudi-Romawi Pertama. Pemberontakan ini berlangsung selama 4 tahun dan berakhir pada tahun 70 Masehi, saat mana panglima militer Romawi, jenderal Titus, berhasil menumpas pemberontakan ini dan menghancurkan Yerusalem hingga rata dengan tanah. Orang-orang Yahudi di Yerusalem dibantai dan sisanya diperjualbelikan sebagai budak di kota-kota Romawi.
Perang Kitos (115-117), disebut juga Pemberontakan di Pengasingan merupakan nama yang diberikan pada perang Yahudi-Romawi Kedua. Nama Kitos diambil dari jenderal Lusius Quietus yang dengan brutal memadamkan pemberontakan Yahudi di Mesopotamia. Dia kemudian dikirim ke Yudea menangani pemberontakan di sana sebagai seorang procurator di bawah Trajan, kaisar Romawi pada saat itu.
Walaupun mengalami pembantaian dalam dua pemberontakan tadi, namun orang Yahudi masih menjadi mayoritas di Yerusalem, hingga pada akhir pemberontakan ketiga ketika mereka bangkit melawan Romawi tahun 132 hingga 135 Masehi. Pemberontakan ini dipimpin oleh Simon bar Kokhba dan dikenal dengan pemberontkan Barkokhba yang hampir berhasil menguasai Yerusalem. Namun kaisar Hadrian (pengganti Trajan) berhasil memadamkan pemberontakannya. Dia bahkan merubah nama provinsi Iudaea menjadi Syria Palestina, membantai dan mengusir orang Yahudi dari Yerusalem lalu merubah nama kota itu menjadi Aelia Capitolina (diambil dari namanya Aelius Hadrianus) dengan maksud mempermalukan Yahudi dan menghapus hubungan historis Yahudi dari wilayah itu.
Orang-orang Yahudi, terutama orang Yerusalem, tercerai-berai ke berbagai penjuru dunia dan membentuk diaspora di negeri-negeri asing. Reruntuhan Yerusalem dibangun kembali dengan namanya yang baru (Aelia Capitolina) dan di atas puing ka’bah Yahudi Hadrian membangun kuil untuk dewa Jove (Yupiter versi Yunani).
Agama Kristen Menjadi Agama Resmi
Orang-orang Yahudi dilarang memasuki bahkan mendekati Yerusalem hingga beratus-ratus tahun sesudah itu. Sebagian besar mereka lalu meninggalkan Israel membawa serta budaya dan agama Yahudi, juga ajaran Kristen yang sudah dianut sebagian dari mereka. Agama Yahudi bersifat eksklusif, tapi ajaran Yesus bersifat inklusif dan dengan demikian mudah menyebar di negeri-negeri asing dimana diaspora-diaspora Yahudi Kristen terbentuk.
Untuk mengamankan kekaisaran di tengah perkembangan kekristenan yang semakin meluas, pemerintah Romawi merangkul umat Kristen dengan melakukan beberapa penyesuaian pada ajarannya dan diasimilasikan dengan budaya Helenistik yang sudah dianut orang di seluruh wilayah Romawi sejak jaman Yunani. Dengan demikian semakin banyak orang yang menerima ajaran Kristen itu, hingga akhirnya Kaisar Konstantin sendiri memeluk agama Kristen pada tahun 325 Masehi. Kaisar ini memindahkan ibukota kekaisarannya ke Byzantine yang kemudian dinamai Konstantinopel.
Sejak itu Kristen menjadi agama resmi di seluruh kekaisaran Byzantine, termasuk di Palestina, dimana Konstantin merubuhkan berbagai kuil para dewa Yunani dan mendirikan banyak gereja di seluruh Palestina. Di antaranya adalah gereja Sepulchre suci (335 M) yang menjadi salah satu gereja terpenting Kristen karena diyakini menjadi tempat kebangkitan, didirikan di atas pondasi bekas kuil dewi Aphrodite dari zaman sebelumnya. Konstantin juga mendirikan gereja Ascensian di gunung Zaitun (Mount of Olives) dimana mereka yakini Yesus diangkat ke surga, dan gereja Nativity di Bethlehem: kota kelahiran Yesus. Pada masa inilah dimulainya tradisi ziarah umat Kristen ke Yerusalem. Mereka datang dari seluruh kekaisaran Romawi, terutama dari Eropa.
Inilah akhir babak ke 3: Masa kekaisaran Byzantine. Babak ini bukanlah keunggulan Palestina, namun jelas ini kekalahan total bagi bangsa Israel dimana mereka terusir dari tanah Israel. Dinasti Herodes telah berakhir, namun istilah Palestina untuk pertama kalinya digunakan sebagai nama untuk seluruh wilayah Israel dan Palestina.
Pada tahun 6 Masehi, Romawi kembali mengambil alih kekuasaan atas wilayah Israel dan Palestina dengan memecat Archelaus, anak Herodes, yang menyalahgunakan kekuasaannya. Judea menjadi bagian dari sebuah provinsi Romawi yang lebih besar, yakni Iudaea, yang terbentuk dengan menggabungkan Yudea, Samaria dan Idumea. Ibukota provinsinya adalah Caesarea.
Pontius Pilatus merupakan salah satu gubernur di Provinsi ini. Pilatus diceritakan sebagi orang yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Dalam pengadilannya dia tidak mendapati kesalahan apapun pada Yesus, tapi karena tuntutan yang begitu besar dari orang Yahudi agar Yesus disalibkan, Pilatus akhirnya mencuci tangannya dan menyerahkan kewenangannya kepada massa yang beringas itu.
Setelah Yesus disalibkan tentara Romawi pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, para pengikut Yesus menyebarkan ajaran-ajaran Yesus di seluruh tanah Israel, Palestina, bahkan di seluruh kekaisaran Romawi. Para pemuka agama Yahudi menghawatirkan berkembangnya ajaran ini dan berusaha menangkap para penyebarnya. Ini membuat mereka melarikan diri dari tanah Israel ke tempat-tempat seperti Antiokia, Epesus, Roma dan negeri-negeri asing lainnya. Mereka akhirnya membentuk koloni-koloni Yahudi Kristen, seperti yang dibentuk Petrus di Roma.
Ajaran Kristen terus meluas, bukan saja oleh orang-orang Yahudi namun juga oleh orang-orang Yunani yang telah dikristenkan. Seperti halnya Paulus orang Tarsus yang mengabarkan Injil kepada orang-orang Yahudi, Yunani dan Romawi dengan keahliannya menginterpretasikan terminologi-terminologi dan pemahaman-pemahaman filosofis dalam ajaran nasrani sesuai standar peradaban Helenistik yang dikuasainya sebagai orang Yunani. Paulus menjadi penulis beberapa buku dalam kitab suci agama Kristen.
Antara tahun 41 dan 44 CE, Iudaea kembali mendapatkan otonomi nominalnya ketika Herodes Agripa dinobatkan sebagai raja orang Yahudi oleh kaisar Claudius. Tapi ketika Agripa mangkat, provinsi itu kembali diperintah secara langsung oleh Romawi sebelum dikembalikan kepada Markus Julius Agripa pada tahun 48 Masehi. Agripa II ini menjadi raja terakhir dari dinasti Herodes.
Setelah Claudius Agung meninggal tahun 54 Masehi, Nero menjadi kaisar Romawi menggantikan pamannya itu. Nero melakukan pembunuhan pada orang-orang Kristen, di antaranya Paulus dan Petrus yang dihukum mati sekitar tahun 64 Masehi. Nero melakukan pembantaian-pembantaian itu dengan kejam, dari menjadikan mereka makanan singa, membakar mereka hidup-hidup, hingga membakar kota dan mengkambing-hitamkan orang-orang Kristen di Roma. Kekejamannya berlangsung terus hingga tahun 68 Masehi ketika terjadi kudeta militer yang menjungkalkan Nero dari tahtanya. Sebelum dihukum mati, kaisar kejam ini akhirnya bunuh diri.
Orang Yahudi Terusir dari Yerusalem
Dalam masa pemerintahan Nero, yakni pada bulan November tahun 66 Masehi, dimulailah pemberontakan Yahudi yang disebut Perang Yahudi-Romawi Pertama. Pemberontakan ini berlangsung selama 4 tahun dan berakhir pada tahun 70 Masehi, saat mana panglima militer Romawi, jenderal Titus, berhasil menumpas pemberontakan ini dan menghancurkan Yerusalem hingga rata dengan tanah. Orang-orang Yahudi di Yerusalem dibantai dan sisanya diperjualbelikan sebagai budak di kota-kota Romawi.
Perang Kitos (115-117), disebut juga Pemberontakan di Pengasingan merupakan nama yang diberikan pada perang Yahudi-Romawi Kedua. Nama Kitos diambil dari jenderal Lusius Quietus yang dengan brutal memadamkan pemberontakan Yahudi di Mesopotamia. Dia kemudian dikirim ke Yudea menangani pemberontakan di sana sebagai seorang procurator di bawah Trajan, kaisar Romawi pada saat itu.
Walaupun mengalami pembantaian dalam dua pemberontakan tadi, namun orang Yahudi masih menjadi mayoritas di Yerusalem, hingga pada akhir pemberontakan ketiga ketika mereka bangkit melawan Romawi tahun 132 hingga 135 Masehi. Pemberontakan ini dipimpin oleh Simon bar Kokhba dan dikenal dengan pemberontkan Barkokhba yang hampir berhasil menguasai Yerusalem. Namun kaisar Hadrian (pengganti Trajan) berhasil memadamkan pemberontakannya. Dia bahkan merubah nama provinsi Iudaea menjadi Syria Palestina, membantai dan mengusir orang Yahudi dari Yerusalem lalu merubah nama kota itu menjadi Aelia Capitolina (diambil dari namanya Aelius Hadrianus) dengan maksud mempermalukan Yahudi dan menghapus hubungan historis Yahudi dari wilayah itu.
Orang-orang Yahudi, terutama orang Yerusalem, tercerai-berai ke berbagai penjuru dunia dan membentuk diaspora di negeri-negeri asing. Reruntuhan Yerusalem dibangun kembali dengan namanya yang baru (Aelia Capitolina) dan di atas puing ka’bah Yahudi Hadrian membangun kuil untuk dewa Jove (Yupiter versi Yunani).
Agama Kristen Menjadi Agama Resmi
Orang-orang Yahudi dilarang memasuki bahkan mendekati Yerusalem hingga beratus-ratus tahun sesudah itu. Sebagian besar mereka lalu meninggalkan Israel membawa serta budaya dan agama Yahudi, juga ajaran Kristen yang sudah dianut sebagian dari mereka. Agama Yahudi bersifat eksklusif, tapi ajaran Yesus bersifat inklusif dan dengan demikian mudah menyebar di negeri-negeri asing dimana diaspora-diaspora Yahudi Kristen terbentuk.
Untuk mengamankan kekaisaran di tengah perkembangan kekristenan yang semakin meluas, pemerintah Romawi merangkul umat Kristen dengan melakukan beberapa penyesuaian pada ajarannya dan diasimilasikan dengan budaya Helenistik yang sudah dianut orang di seluruh wilayah Romawi sejak jaman Yunani. Dengan demikian semakin banyak orang yang menerima ajaran Kristen itu, hingga akhirnya Kaisar Konstantin sendiri memeluk agama Kristen pada tahun 325 Masehi. Kaisar ini memindahkan ibukota kekaisarannya ke Byzantine yang kemudian dinamai Konstantinopel.
Sejak itu Kristen menjadi agama resmi di seluruh kekaisaran Byzantine, termasuk di Palestina, dimana Konstantin merubuhkan berbagai kuil para dewa Yunani dan mendirikan banyak gereja di seluruh Palestina. Di antaranya adalah gereja Sepulchre suci (335 M) yang menjadi salah satu gereja terpenting Kristen karena diyakini menjadi tempat kebangkitan, didirikan di atas pondasi bekas kuil dewi Aphrodite dari zaman sebelumnya. Konstantin juga mendirikan gereja Ascensian di gunung Zaitun (Mount of Olives) dimana mereka yakini Yesus diangkat ke surga, dan gereja Nativity di Bethlehem: kota kelahiran Yesus. Pada masa inilah dimulainya tradisi ziarah umat Kristen ke Yerusalem. Mereka datang dari seluruh kekaisaran Romawi, terutama dari Eropa.
Inilah akhir babak ke 3: Masa kekaisaran Byzantine. Babak ini bukanlah keunggulan Palestina, namun jelas ini kekalahan total bagi bangsa Israel dimana mereka terusir dari tanah Israel. Dinasti Herodes telah berakhir, namun istilah Palestina untuk pertama kalinya digunakan sebagai nama untuk seluruh wilayah Israel dan Palestina.
Langganan:
Postingan (Atom)
